16 Februari 2009

Pelopor Tarekat Di Dunia Islam

A. Aliran Qadariyah
Qadariyah adalah nama tarekat yang diambil dari nama pendirinya yaitu syaikh abdl Qadir Al-Jilani yang terkenal dengan sebutan Syaikh 'Abdl Qadir Al-jilani Al-ghawsts atau Qutub Al-Awaliya'.tarekat Qadariyah ini menempati posisi yang sangat penting dalam sejarah spiritualitas islam karena bukan hanya pelopor lahirnya berbagai macam tarekat namun juga cikal bakal munculnya berbagai macam tarekat di dunia islam.syaikh 'Abdl Qadir Al-jilani telah memberikan pengaruh yang cukup besar dalam pemikiran dan sikap umat islam, beliau dikenal sebagai sosok yang ideal dalam keunggulan dan pencerahan spritual.
beliau lahir didesa naif kota gilan pada tahun 470/1077 M yaitu diwilayah yang terletak sekitar 150 km dari bagdad, beliau dilahirkan oleh seorang ibu yang soleha yang bernama fatimah binti Abdullah al-Shama'i al-Husaiyni, pada saat melahirkan syaikh 'Abdul Qadir ibunya telah berumur 60 tahun,ini adalah suatu kelahiran yanng tidak lazim terjadi pada seorang wanita pad umumnya. ayahandanya bernama shalih jauh sebelum syaikh 'Abdul Qadir dilahirkan beliau bermimpi pada suatu malam bahwa beliau bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, yang diiringi oleh para sahabatnya, imam mujahidin, dan para wali.beliau berkata: "Wahai Abu Shalih, Allah akan memberi anak laki-laki , anak itu kelakakan mendapat pangkat yan tinggi dalam kewaliansebagaimana halnya akku yang mendapat pangkat tertinggi dalam kenabiandan kerasulan".
syaikh 'Abdul Qadir eninggal dibagdad pada tahun 561/1166 M.terbukti pada perkataan Rasulullah dikalangan kaum sufi beliau diakui sebagai sosok yang menepatiheararki mistik yang tertinggi yangmenduduki tingkat kewalian yang tertinggi.dalam sumbangsih pemikiranya syaikh 'Abdul qadir membagi manusia menjadi empat katagori yaitu :

1. pertama manusia yang tidak punya lidah dan hati, mereka ini adalah golongan masyarakat yang tidak peduli dengan kebenaran dan keutamaaan,mereka hanya tunduk pada indra fisik.

2. kedua yaitu mereka yang punya lidah tetapi tidakpunya hati, mereka ini adalah golongan orang-orang yang terpelajar dan memiliki retorika yang bagus,yang slalu menganjurkan kepada orang lain untuk bernuat baik dan benar, namum mereka sendiri tidak berbuat demikian bahkankebalikanya, yaitu selalu mengerjakan hal-hal yang tidak baik.

3. ketiga manusia yang tidak punya lidah,tetapi unya hati, mereka ini adalah golongan orang-orang mukmin sejati, yang selalu sadar dengan kelemahan dan kekuranyanya,sehingga berusaha terus mensucikan diri dari hal-hal yang kotor,bagi mereka diam lebih baik daripada bicara tetapi membingungkan umat.subhanallah smoga kita juga termasuk orang pada orang-orang golongan ketiga ini.

4. keempat manusia yang memiliki lidah dan memiliki hati, yaitu mereka yang mendapatkan pengetahuan sejati dilengkapi dengan bimbingan dari Allah SWT , mereka ini adalah para nabi.

Menurut syaikh 'Abdul Qodir untuk mencapai katagori manusia yang tertinggi harus melalui empat tahap :
1. tahap pertama adalah orang yang meyakini tuhan dengan totalitas dan menjlankan agamadengan baik, tanpa pertolongan orang lain.

2. tahap kedua adalah ketika seseorang telah mendekati kesucian hati yang dapat menjelaskan dua hal yaitu orang yag berusaha untuk memenuhi kebutuhandasarnya tetapi menahan diri dari kehidupan yang hedonistik, dan orang ang mengikuti suara hati yang melintas dalam dirinya.

3. tahap ketiga yaitu keadaan tawakal yakni ketika seseorang berserah diri secara total kepada tuhan.

4. tahap 4 yaitu keadaan fana yakni keadaan seseorang yang sangat dekat dengan tuhan bahkan menyatu denganya.
inilah tahap-tahap kesepurnaan yang harus dimiliki oleh seseorang untuk mencapai katagori manusia yang tertinggi, pada tahap empat ini yaitu keadaan fana ini persatuan yang dimaksud adalah kedekatan yang amat sangat dengan tuhan, sehingga segala kelezatan dunia dan keinginan menyatu dalam keinginan dan tujuan tuhan, dalam keadaan ini manusia sadar bahwa tidak ad sesuatu pun kecuali tuhan, namum sayang sejauh ini tidak ada rujukan pada buku ataupun pandangan lain dari para sufi terdahulu mengenai hal semacam ini. keadaan ini adalah eksperesi dari gejolak kejiawaan yang sangat tinggi sehingga muncul ungkapan yang sama. beliaujuga menngatakan bahwa mistik membuat seseorang menangkap realitas lebih luas dibandingkan denagyang ditangkap akal.(eliza)

Referensi :
Dr. Hj.Sri mulyati, MA. MENGENAL DAN MEMAHAMI TAREKAT-TAREKAT MUKTABARAH DI INDONESIA, Pranada Media group,Jakarta.cet.3.

http://www.gp-ansor.org/hikmah/kaum-sufistik-dan-pertumbuhan-thariqat.html

Kaum Sufistik dan Pertumbuhan Thariqat

KAUM Sufi atau biasa disebut sufistik adalah mereka yang menganut dan mengamalkan faham “tasawuf.” Para sufistik juga sering dinamakan dengan kaum suci yang sedang menggapai cahaya Allah. Istilah “tasawuf”(sufism) sendiri telah sangat populer digunakan selama berabad-abad. Secara umum istilah tasawuf berarti orang-orang yang tertarik kepada pengetahuan batin, orang-orang yang tertarik untuk menemukan suatu jalan atau praktik ke arah kesadaran dan pencerahan batin. Istilah ini hampir tak pernah digunakan pada dua abad pertama Hijriah, bahkan di masa hidup Nabi Muhammad saw, atau orang sesudah beliau, atau yang hidup setelah mereka.

Sejarah kelahirannya bermula di abad kedua dan ketiga setelah kedatangan Islam (622), terdapat sebagian orang yang mulai menyebut dirinya sufi yang berarti mereka mengikuti jalan penyucian diri, penyucian “hati”, dan pembenahan kualitas watak dan perilaku mereka untuk mencapai maqam (kedudukan) orang-orang yang menyembah Allah seakan-akan mereka melihat Dia. Bermacam-macam definisi tasawuf digunakan para syeikh besar sufi, diantaranya sebagai berikut: Imam Junaid dari Baghdad mendefinisikan tasawuf sebagai “mengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah”.

Syekh Abul Hasan asy-Syadzili, syekh sufi besar dari Afrika Utara, mendefinisikan tasawuf sebagai “praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan”.

Syekh Ahmad Zorruq dari Maroko mendefinisikan tasawuf sebagai berikut: Ilmu yang dengannya Anda dapat memperbaiki hati dan menjadikannya semata-mata bagi Allah, dengan menggunakan pengetahuan Anda tentang jalan Islam,khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan, untuk memperbaiki amal Anda dan menjaganya dalam batas-batas syariat Islam agar kebijaksanaan menjadi nyata.

Syekh Ibn Ajiba: Tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya Anda belajar bagaimana berperilaku supaya berada dalam kehadiran Tuhan yang Maha ada melalui penyucian batin dan mempermanisnya dengan amal baik. Jalan tasawuf dimulai sebagai suatu ilmu, tengahnva adalah amal. dan akhirnva adalah karunia Ilahi.

Syekh as-Suyuthi berkata, “Sufi adalah orang yang bersiteguh dalam kesucian kepada Allah, dan berakhlak baik kepada makhluk”.

Sementara dalam konteks Islam tradisional tasawuf berdasarkan pada kebaikan budi ( adab) yang akhirnya mengantarkan kepada kebaikan dan kesadaran universal. Ke baikan dimulai dari adab lahiriah, dan kaum sufi yang benar akan mempraktikkan pembersihan lahiriah serta tetap berada dalam batas-batas yang diizinkan Allah, la mulai dengan mengikuti hukum Islam, yakni dengan menegakkan hukum dan ketentuan-ketentuan Islam yang tepat, yang merupakan jalan ketaatan kepada Allah. Jadi, tasawuf dimulai dengan mendapatkan pengetahuan tentang amal-amal lahiriah untuk membangun, mengembangkan, dan menghidupkan keadaan batin yang sudah sadar.

Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Tarekat (pelbagai aliran dalam Sufi) sering dihubungkan dengan Syiah, Sunni, cabang Islam yang lain, atau kombinasi dari beberapa tradisi. Pemikiran Sufi muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia.

Sedangkan Tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah, jamaknya tharaiq, yang berarti: (1) jalan atau petunjuk jalan atau cara, (2) Metode, system (al-uslub), (3) mazhab, aliran, haluan (al-mazhab), (4) keadaan (al-halah), (5) tiang tempat berteduh, tongkat, payung (‘amud al-mizalah).
Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (740-816 M), tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan/maqamat.

Tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.

Tarekat itu mempunyai tiga sistem, yaitu: sistem kerahasiaan, sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub. Kedudukan guru tarekat diperkokoh dengan ajaran wasilah dan silsilah. Keyakinan berwasilah dengan guru dipererat dengan kepercayaan karamah, barakah atau syafa’ah atau limpahan pertolongan dari guru.

Pengertian diatas menunjukkan Tarekat sebagai cabang atau aliran dalam paham tasawuf. Pengertian itu dapat ditemukan pada Tarekat Qadiriyah, Tarekat Naksabandiyah, Tarekat Rifa’iah, Tarekat Samaniyah dll. Untuk di Indonesia ada juga yang menggunakan kata tarekat sebagai sebutan atau nama paham mistik yang dianutnya, dan tidak ada hubungannya secara langsung dengan paham tasawuf yang semula atau dengan tarekat besar dan kenamaan. Misalnya Tarekat Sulaiman Gayam (Bogor), Tarekat Khalawatiah Yusuf (Suawesi Selatan) boleh dikatakan hanya meminjam sebutannya saja.

Jika dirinci secara akurat, sebenarnya jumlah tarekat dalam dunia Islam amat besar. Beberapa contoh tarekat dalam beberapa negara dan beberapa ciri mereka yang khas. Pertama tarekat “kota” ialah Qadariyah, yang dinamakan menurut Abd al-Qadir al-Jilani (1077-1166). Beliau asal mulanya seorang ahli bahasa dan ahli hukum Hambali. Karena beliau amat digemari sebagai guru di Baghdad, khalayak ramai mendirikan sebuah ribat untuk beliau di luar pintu kota. Pemimpin tarekat dan pemelihara makamnya di Baghdad masih keturunan langsung Syekh Abd al-Qadir al-Jilani. Pada akhir abad kesembilan belas terdapatlah jumlah besar dari cabang-cabang tarekat ini yang meliputi Maroko hingga Indonesia –yang hanya secara kendur hubungannya dengan lembaga pusat di Baghdad– yang tiap-tiap tahun tetap menjadi tempat ziarah.

Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah adalah perpaduan dari dua buah tarekat besar, yaitu Thariqah Qadiriyah dan Thariqah Naqsabandiyah. Pendiri tarekat baru ini adalah seorang Sufi Syaikh besar Masjid Al-Haram di Makkah al-Mukarramah bernama Syaikh Ahmad Khatib Ibn Abd.Ghaffar al-Sambasi al-Jawi.. Beliau adalah seorang ulama besar dari Indonesia yang tinggal sampai akhir hayatnya di Makkah. Syaikh Ahmad Khatib adalah mursyid Thariqah Qadiriyah, di samping juga mursyid dalam Thariqah Naqsabandiyah. Tetapi ia hanya menyebutkan silsilah tarekatnya dari sanad Thariqah Qadiriyah saja. Sampai sekarang belum diketemukan secara pasti dari sanad mana beliau menerima bai’at Thariqah Naqsabandiyah.

Pada tahun 1957, Jam’iyyah Ahl Thariqah Mu’tabarah didirikan oleh Nahdlatul Ulama, pada saat itu masih berbentuk partai. Tujuannya adalah untuk menyatukan semua kekuatan Thariqat dan memelihara silsilah yang dimulai dari Nabi Muhammad Saw. Jam’iyyah ini memelihara dan mengajarkan ajaran tasawuf dari 45 kekuatan Thariqat yang pernah ada pada tahun 1975. Syaikh Mustain Romly dari Rejoso diangkat sebagai pimpinan Jam’iyyah ini. Pada tahun 1979, ketika Syaikh Mustain Romli merubah afiliansinya dari Partai Persatuan Pembangunan ke GOLKAR, para Ulama mendirikan Jam’iyyah Ahl al-Thariqah al-Nahdliyyah, Pimpinan Jam’iyyah ini adalah Syaikh Haji DR. Idham Kholid, dimana pada saat itu pernah menyambut kedatangan Syaikh Muhammad Hisham Kabbani pada bulan Desember 1977.

Berbagai bentuk tarekat yang diamalkan oleh umat Islam di seluruh dunia, semua merujuk dari ilmu dan amalan dzikrullah yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada sejumlah sahabat secara khusus sehingga timbul kemudian ajaran tasawwuf. Mulanya terdapat dua jenis dzikrullah; yakni dzikir darajat dan dzikir hasanat. Selaras dengan perkembangan zaman, kemudian muncul bermacam-macam jenis tarekat, seperti; Naqshabandiyah, Qadiriyah, Satariyah, Shadhaliyah, Rifi’iyah, dan sebagainya lagi. Berbagai aliran tarekat tersebut pergerakannya juga mengikuti alur madzhab empat; Hanafi, maliki, Shafi’e dan Hanbali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar